Berita  

KAPB Gelar Unjuk Rasa Terkait Dana Hibah, Ini Kata Rieke Iskandar

Oplus_131072

CIBINONG – Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Pemuda Bogor (KAPB), melakukan aksi demonstrasi di depan pintu gerbang Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Bogor, pada Selasa, (28/7/2026).

Dalam aksinya tersebut, mahasiswa menyampaikan tujuh tuntutan terkait proyek rehabilitasi, pembangunan sarana dan prasarana olahraga yang tengah dikerjakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Bogor, hingga penggunaan dana hibah oleh Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) daerah tersebut.

Tuntutan pertama, KAPB mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, membatalkan pemenang mini kompetisi perbaikan atap Gelora Pakansari.

Kemudian, massa juga mendesak agar proyek rehabilitasi Stadion Mini dievaluasi, karena masih menggunakan mini kompetisi.

“Membatalkan proses pengadaan pembangunan lapangan tembak, apabila ditemukan pelanggaran prosedur dan pengkondisian proyek,” kata salah seorang peserta aksi, Camus.

Selain itu, KAPB juga mendesak agar Bupati Bogor dan inspektorat, melakukan audit investigasi terhadap dana hibah bagi organisasi olahraga KORMI

“Hentikan sementara pemberian dana hibah hingga hasil audit dipublikasikan,” terang mereka dalam tuntutannya.

Aksi KAPB yang menuntut transparansi dana hibah ini mendapat respons Ketua KORMI Kabupaten Bogor, Rieke Iskandar.

Pria yang akrab disapa Akew ini menemui para mahasiswa, dan memberikan penjelasan terkait tuntutan mereka.

Akew, yang datang ke lokasi aksi, menaiki mobil komando dan menyampaikan bahwa pihaknya dengan senang hati menerima aspirasi para mahasiswa.

Akew, bahkan mempersilahkan kepada mahasiswa untuk berdiskusi dengan dirinya terkait persoalan ini.

“Kalau memang ada masal, ada yang belum jelas silahkan tanya hari ini. Tapi, kalau mau bicara, saya tunggu di kantor KORMI, hayu kita ngobrol bareng-bareng,” kata Akew melalui pengeras suara.

Akew juga menjelaskan kepada mahasiswa bahwa KORMI, hadir dengan tujuan mengajak masyarakat agar ikut berolahraga.

Tambah dia menjelaskan, bahwa organisasinya mewadahi olahraga tradisional, yang artinya KORMI berkewajiban untuk ikut melestarikan budaya tradisional. “Seperti egrang, sumpitan dan lainnya,” kata dia.

Namun, untuk menanggapi soal tuntutan aksi, Akew kembali mengajak mahasiswa untuk berdialog dengan dirinya. MON