BOGOR – Wacana perpanjangan rute KRL hingga kawasan Lido, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, dinilai dapat menjadi momentum strategis bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, dalam mempercepat pengembangan ekonomi dan pariwisata di wilayah selatan Kabupaten Bogor.
Aktivis pemuda Muhammad Azrin mengatakan, peningkatan konektivitas transportasi menuju Cigombong tidak seharusnya hanya dipandang sebagai pembangunan infrastruktur transportasi. Kehadiran KRL harus diikuti dengan strategi pembangunan kawasan yang mampu menghubungkan mobilitas masyarakat dengan aktivitas ekonomi lokal.
Menurut Azrin, Cigombong memiliki potensi pariwisata yang cukup besar, mulai dari kawasan Lido, wisata alam, kuliner, hingga berbagai potensi ekonomi masyarakat. Namun, potensi tersebut perlu dikelola secara lebih terintegrasi agar mampu memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.
“Perpanjangan KRL menuju Lido harus menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Bogor untuk memaksimalkan potensi pariwisata Cigombong. Jangan sampai infrastruktur transportasinya berkembang, tetapi ekonomi masyarakat di sekitarnya tidak ikut tumbuh,” ujar Muhammad Azrin.
Azrin menilai peningkatan aksesibilitas akan membuka peluang bertambahnya kunjungan wisatawan. Karena itu, pemerintah daerah perlu menyiapkan ekosistem pariwisata yang terintegrasi, termasuk transportasi menuju destinasi wisata, pusat kuliner, UMKM, ekonomi kreatif, hingga akomodasi masyarakat.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Bogor perlu memperkuat kapasitas pelaku UMKM dan masyarakat lokal agar dapat mengambil manfaat dari meningkatnya aktivitas wisata. Pelatihan, digitalisasi pemasaran, peningkatan kualitas produk, serta penyediaan ruang bagi produk lokal dinilai penting untuk dilakukan sejak awal.
Dari perspektif pembangunan wilayah, Azrin mengatakan pembangunan transportasi seharusnya memiliki efek berganda terhadap perekonomian. Meningkatnya aksesibilitas harus mampu menciptakan pergerakan wisatawan, meningkatkan transaksi ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, serta memperluas pasar bagi produk masyarakat Cigombong.
“Masyarakat Cigombong harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan. Mereka harus menjadi pelaku utama yang mendapatkan manfaat dari meningkatnya konektivitas dan aktivitas pariwisata,” tegasnya.
Azrin juga mendorong Pemerintah Kabupaten Bogor untuk menyusun strategi pengembangan pariwisata Cigombong yang terintegrasi dengan rencana pengembangan KRL. Perencanaan tersebut perlu melibatkan pemerintah desa, masyarakat, pelaku UMKM, komunitas pemuda, pelaku pariwisata, dan sektor swasta.
Menurutnya, pengembangan pariwisata juga harus memperhatikan aspek lingkungan dan tata ruang. Pertumbuhan jumlah wisatawan harus diimbangi dengan pengelolaan sampah, transportasi, air, serta daya dukung lingkungan agar pembangunan Cigombong dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Jangan sampai Cigombong hanya menjadi tempat orang turun dari KRL lalu melanjutkan perjalanan. Kita harus menjadikan Cigombong sebagai kawasan yang membuat orang ingin berhenti, berwisata, berbelanja, menikmati kuliner, dan mengenal potensi lokal. Dengan begitu, konektivitas transportasi benar-benar dapat menjadi penggerak roda perekonomian masyarakat,” pungkasnya. = MON







